Project 1 - Teman yang Buruk

 

          Distrik 10 Blok Niaga, adalah sebuah kawasan perdagangan atau tepatnya wilayah pertokoan bidang kuliner. Mulai kafe kecil kekinian sampai restaurant keluarga buka setiap hari di Blok Niaga.


          Bellgym Food, sebuah restaurant makanan kecil yang menu andalannya sup terlihat sepi. Hanya seorang pria gendut dan polisi muda yang ada di dalam toko,  si pria gendut terlihat menunjuk-nunjuk area dalam restaurantnya sementara si polisi memperhatikan dengan seksama.


“Apakah anda yakin dua pria itu terus memperhatikan korban?”


          Sebuah pertanyaan dengan tatapan serius menerkam si pria gendut yang hanya dijawab olehnya dengan anggukan.


“Baiklah, terima kasih sudah bersedia saya wawancara.” Polisi muda mengulurkan tangannya, mengajak untuk bersalaman.


“Ya. Tidak apa-apa.”


          Pria gendut menyambut tangan si polisi, setelah bersalaman akhirnya mereka berpisah. Polisi muda yang sejak tadi menanyai pria gendut keluar dari restaurant dan berjalan menuju mobil dinasnya sementara si pria gendut merapihkan restaurantnya, bersiap untuk membukanya.


          William Lodygin, nama dari si polisi. Seorang pria muda berumur 22-an, namun sejak resmi menjadi polisi sampai sekarang dia sudah menyelesaikan beberapa kasus seorang diri. Kepala Polisi ingin menaikkan pangkatnya namun William malah menolak dan mengajukan sebuah hak dimana dia dapat ‘bergerak bebas’ saat menangani kasus kedepannya.


          Kasus kali ini adalah penculikkan seorang wanita muda berumur 20 tahun, berambut pirang dengan postur tubuh ideal dan wajah cantik. Terakhir terlihat keluar dari rumah makan yang baru saja William mintai keterangan dan rekaman CCTVnya.


“Diikuti selama 2 hari dan selama 2 hari kegiatannya full di luar rumah.” Gumam William.


          Ia menyetir menuju pusat kota, Central City dimana markas polisi kota Ostell berada. Dia ingin membuat laporan dan meminta izin untuk eksekusi final kasusnya.


          Dari Distrik 10 ke Central City tidak membutuhkan waktu lama karena trafik juga lancar. Walaupun Ostell kota yang lumayan maju namun letaknya yang dekat perbatasan negara membuat Ostell tidak sepadat kota yang ada ditengah negara. Sesampainya di markas, William segera menuju meja kerjanya dan mulai mengetik laporan yang ia temukkan.


          Setiap huruf yang menyusun kalimat, otaknya juga mulai menyusun gambaran pelaku dan motif sebenarnya. Walau pun motifnya tentu karena korban sebagai wanita sangat menawan tapi William mencoba mencari motif lain, mulai motif kedua yang sangat memungkinkan jika motif pertama keliru sampai motif kesekian yang hanya punya kemungkinan beberapa persen saja menjadi motif utama penculikan.


“Sebagai polisi, jangan terpaku di satu hal yang sangat wajar.”


          Suara yang melontarkan perkataan memecahkan konsentrasi William, jari dan pikirannya berhenti sesaat untuk bekerja dan menyusun ‘masa depan’ kasusnya.


“Jamie. Ada apa?”


          William menanyai sumber suara, polisi yang umurnya lebih muda darinya namun punya posisi yang kuat di Kepolisian Ostell.


“Saat kau memikirkan sesuatu, kau terlihat jelas.”


“Ya. Apa itu menganggumu?”


“Tidak, aku justru kagum kau bisa memikirkan banyak hal sambil mengerjakan sesuatu.”


          Jamie menaruh sebotol minuman berenergi di dekat monitor William.


“Jika kau luang, ikutlah denganku, Will. Aku agak buntu.”


“Jika aku luang.”


          Jamie tersenyum kecil lalu pergi melewati meja William. Mereka memang sering berbincang, Jamie sangat menghormati dan mengakui William karena pencapaian William sejauh ini, sebaliknya William mengakui Jamie karena pencapaian Jamie mengekor di belakang.


          Setelah laporan beres, William segera menuju ke kantor Kepala Kepolisian. Biasanya untuk menutup kasus, tindakan terakhir yaitu penangkapan butuh izin dari beberapa bagian namun karena William meminta hak kebebasan bergerak sebagai ganti promosi, ia hanya perlu basa-basi dengan kepala keamanan.


“Masuk.”


          Sebuah suara berat mempersilahkan William untuk masuk ke ruangan dengan pintu tertempel tulisan ‘Kepala Kepolisian Kota Ostell’. Di dalam ruangan, seorang pria paruh baya dengan postur tegap gempal duduk dibalik meja. Raut serius di wajahnya dengan tubuh tegapnya memancarkan wibawa, dia adalah Kepala Kepolisian Kota Ostell, Gilbert.


“Tuan Gilbert, selamat siang.”


          William menyapa sekalian bersalaman dengan atasannya lalu duduk di kursi depan meja Gilbert.


“Saya ingin meminta izin untuk operasi penangkapan pelaku.”


          Gilbert tersenyum, dia lalu merobek kertas dari salah satu buku dan mulai menulis.

“Baiklah, serahkan ini ke Henry untuk surat penangkapanmu”


          Gilbert memberikan secarik kertas yang baru saja ia tulis. Sebuah tulisan sederhana untuk mengeluarkan surat izin penangkapan William.


          Setelah mengucapkan terima kasih, William beranjak dan menuju ke ruangan Henry, seorang petugas polisi non-lapangan yang mengurus arsip-arsip dan surat izin berkaitan dengan kasus-kasus di Kepolisian Ostell.


 



          William seperti berpacu dengan waktu, setelah mengantongi izin William segera meluncur ke Distrik 6, area kumuh dimana kelas bawah tinggal. Tak hanya kemiskinan yang tercium jelas di Distrik 6, kekerasan pun tumbuh subur. Memang jika ingin bersembunyi dari hukum, Distrik 6 adalah tempat yang bagus karena kepolisian malas untuk mengontrol Distrik 6.


          William memarkirkan mobilnya di parkiran umum dan berjalan cepat di trotoar. Ia memakai pakaian biasa dengan jas panjang untuk menutupi pistol dan pisaunya, William menyempatkan diri untuk ganti di mobil agar tak menjadi pusat perhatian.


          Di depan sebuah bangunan berlantai 3, William diam sejenak di depan pintu masuk. Kemudian mengetuk pintu dengan 5 ketukan berjarak 2 detik. Pintu lalu terbuka sedikit, sepasang mata menatap wajah William baik-baik lalu pintu pun terbuka.


          Seorang pria kurus membuka pintu, tangan kirinya memegang sebuah pistol dibalik badannya.


“Petugas William. Kukira polisi yang mengetuk, ternyata hanya badut.”


          Raut muka William langsung berubah menjadi kecut, ia sangat terlihat tidak suka mendengar perkataan pria yang membuka pintu untuknya.


“Dimana majikanmu?”


          William bertanya, namun tidak langsung dijawab, malah pria di depannya lebih memilih menutup pintu. Keduanya saling menatap mata lawan bicaranya, walau mata yang ditatap namun seperti hal lain yang diperhatikan. Keduanya seperti memperhatikan tangan lawan bicaranya, bersiap merespon jika ada gerakan tangan lawan bicaranya. Walau pun tatapan mereka lurus menatap mata.


“Tempat biasa.”


          Setelah mendapat jawaban, William langsung meninggalkan pria tadi. Ia naik ke lantai atas, lalu menuju ke sebuah pintu berwarna biru dan mengetuknya sambil mengatakan namanya.


          Lalu pintu terbuka, lagi-lagi seorang pria membukakan pintu untuknya namun kali ini postur si penyambut lebih berisi. Sebuah pistol berada di tangan kanan si penyambut, bedanya kali ini pistolnya lebih ditunjukkan.


“Kau terlalu berhati-hati, John.” Kata William sebari menatap pria yang duduk di sofa tengah ruangan.


          William masuk, pintu tertutup. Kali ini William benar-benar disambut, segelas minuman berwarna disodorkan ke depan William dan diterima sebari duduk di sebelah pria yang menawarkannya.


          Pria pirang berambut gondrong, brewok tipis dan mata biru cerah semakin mematenkan kesan elegan yang terpancar pada dirinya dan pakaiannya. Duduk sambil merokok dan minum disamping William


“Kami harus berhati-hati dengan polisi. Mereka bisa memangsa lawan dan menggigit teman sendiri.”


          William tersenyum mendengar itu, lalu membalas obrolan dengan basa-basi. Pria yang mengobrol dengan William adalah Robert, bos Rich-Man, sebuah geng asli Distrik 6 yang kegiatannya adalah jasa keamanan, perdagangan narkoba, rumah bordir serta penjualan barang black market. Distrik 6 benar-benar dikuasai Rich-Man, tidak ada geng lain yang ada di Distrik 6 dan hampir semua usaha dan properti milik Rich-Man. Mereka lebih cocok disebut mafia daripada geng jika dilihat dari pengelolaannya.


“Bisakah kita bicara berdua? Ini tentang Albert si Ular.”


          William mengatakan sesuatu hal yang membuat Robert berubah ekspresi, semua anggota tubuhnya bahkan terjeda karena mendengar perkataan William.


“Tinggalkan kami, jaga depan pintu.”


          Robert memberikan perintah ke pria yang tadi membukakan pintu ruangannya untuk William, kini mereka hanya berdua.


“Bagaimana dengan si pengkhianat itu?”


          Robert bertanya dengan nada berbisik, ia menjaga agar anak buahnya tak mendengar. Karena Albert adalah mantan wakil bos, jadi wajar tiap anggota Rich-Man ingin memenggal kepalanya jika mengetahui keberadaannya karena pengkhianatan yang menjijikkan.


“Membentuk Hook, kelompok kecil yang dipayungi Black Hand dan punya link ke pejabat Ostell.” Balas William.


          Mendengar itu, Robert mengepalkan tangan kanannya dengan kuat. Sangat terlihat ada amarah yang mencoba meledak dari dalam dirinya.


“Beberapa minggu yang lalu, Rich-Man menebar pengaruh ke Distrik 2 dan 3. Namun bisa diredam oleh beberapa orang. Kudengar mereka menyebut diri sebagai Hook.”


          Tiap huruf yang diucap Robert mengandung emosi, bahkan tangannya sampai bergetar.


“Ya. Albert tidak hanya mengkhianati kalian, tapi mencoba membuat kalian diam di Distrik 6.”


“Lalu saat yang tepat datang, dia akan menghabisi kami.”  Timpal Robert.


          Robert menatap ke botol minuman yang tersisa sedikit, sambil memikirkan cara menyingkirkan orang yang mengkhianatinya.


“Aku punya informasi acara Albert 4 hari kedepan.”


          Lagi-lagi perkataan William membuat Robert terjeda beberapa saat.


“Tex, kosongkan lantai 3. Jangan ganggu aku sampai kupanggil.”


          Robert memberikan perintah dari dalam ruangan, beberapa menit kemudian terdengar suara banyak langkah kaki dan sayup-sayup obrolan beberapa orang sampai semuanya hening.


“Bagaimana bisa kau tahu?” Tanya Robert masih dengan nada berbisik.


“Karena kasus penculikan yang kutangani ternyata berhubungan dengan Hook. Dari informanku, aku yakin Albert akan datang di acara-acara selama 4 hari kedepan. Acaranya terlalu formal jadi tidak akan banyak yang melindunginya.”


          Robert segera beranjak dari sofa, menuju ke mejanya yang tak jauh dari tempat mereka duduk. Ia berniat untuk mengambil pulpen dan kertas agar William dapat mencatat rincian tentang agenda Albert selama 4 hari kedepan.


          Tapi Robert terlambat, sebelum ia mengambil pulpen, William lebih cepat mengambil pisau yang dia sembunyikan. Langkah kakinya senyap namun cepat, ia melangkah dengan lebar dan langsung menutup mulut Robert dan menancapkan pisau di lehernya. Bos pertama Rich-Man mati seketika, ditikan oleh seorang polisi yang selama ini saling berbagi informasi bahkan Rich-Man sering memberikan ‘pekerjaan’ ke polisi yang membunuh bos pertamanya. Karena menganggap tahu busuknya si polisi, Rich-Man terlalu percaya dan akibatnya ditusuk dari belakang.

Komentar